Institut Kesenian Jakarta Sebagai Universitas Paling Bergengsi

Tentang Institut Kesenian Jakarta

Institut Kesenian Jakarta Sebagai Universitas Paling Bergengsi

Satu-satunya perguruan tinggi seni di Jakarta, Institut Kesenian Jakarta telah berdiri selama lebih dari 40 tahun. Dengan fokus pada seni dan budaya perkotaan, institut ini mengambil pendekatan multi-disiplin untuk pendidikan. Institut ini masuk dalam 100 besar seni pertunjukan di dunia dalam QS World University Rankings by Subject 2018. Pengajaran di bidang ini mencakup teater, tari, dan musik.

Sebagai ibu kota Indonesia, mahasiswa yang tinggal di Jakarta dapat mengharapkan lingkungan perkotaan yang ramai dan multikultural. Secara historis merupakan pelabuhan perdagangan yang penting, kota ini sekarang menjadi salah satu kota yang paling cepat berkembang di dunia. Ada komunitas Tionghoa terkemuka yang tinggal di sini, meskipun bahasa Inggris adalah bahasa kedua yang paling banyak digunakan setelah Bahasa Indonesia.

Penelitian ini berfokus pada pengaruh pendidikan Santiniketan, India, dalam pembentukan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) pada tahun 1970, yang kemudian berubah nama menjadi Institut Kesenian Jakarta (IKJ). IKJ merupakan perguruan tinggi seni pertama di Indonesia yang menerapkan konsep pendidikan dan pembelajaran interdisipliner di luar kampus sehingga mahasiswa memperoleh pengalaman berinteraksi dengan budaya dan masyarakat.

Konsep pendidikan luar kampus dengan nama “Kampus Merdeka” pada abad 21, telah diangkat kembali oleh Pemerintah Indonesia, sehingga penting untuk memaknai kembali konsep pendidikan IKJ 50 tahun yang lalu. Kebaruan penelitian ini terletak pada ruang lingkup dan lokus studi yaitu IKJ, Perguruan Tinggi Seni Rupa pertama yang berlokasi di Ibu Kota Jakarta.

Metodologi penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan pendekatan penulisan sejarah yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep pendidikan IKJ terinspirasi oleh semangat Santiniketan yang menanamkan nilai-nilai budaya Timur, yaitu dekat dengan alam melalui pengalaman belajar di luar kelas dan seni interdisipliner. Para pendiri IKJ yang terdiri dari seniman, pelukis, sutradara film dan teater, penari, dan intelektual memiliki peran besar dalam mengadaptasi sistem pendidikan Santiniketan, salah satu peran influencer adalah Rusli, pelukis yang pernah belajar di Santiniketan pada tahun 1932-1939.

Karir di bidang seni dan aktivisme

Sekembalinya ke Jakarta pada tahun 1980-an, ia ingin memiliki tempat bekerja, sehingga ia mendirikan Sanggar Seni Somalaing. Dia awalnya bekerja di rumah jaga rumah keluarganya, tetapi segera membangun studio yang lebih besar di sebidang tanah lain milik keluarganya di Jakarta. Di ruang baru, dia secara bertahap memperluas operasinya sampai dia mengawasi tim yang terdiri dari lebih dari selusin asisten. Dia menamai studio tersebut setelah Guru Somalaing Pardede, seorang pejuang sejarah Batak dan pemimpin agama yang menemani antropolog Italia Elio Modigliani dalam perjalanannya di Sumatera pada abad kesembilan belas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *